Rindu merantau
24 / 100 SEO Score

Hola! Bismillah. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Allahuma solli ala sayyidina Muhammad.

*On the way

Aku menjadi candu. Rindu dan ingin kembali, merantau.

Imam Syafii berpesan, “Pergilah dari rumahmu dengan lima faedah, yaitu menghilangkan kejenuhan, mencari bekal hidup, mencari ilmu, mencari teman, dan belajar tatakrama.”

Bus yang mengantarkanku ke Surabaya berhenti diperempatan jalan karena lampu merah. Jendela bus yg bersih dan bening membuatku bisa melihat pemandangan luar dengan jelas.

 

Malang
Pict by litadelapan.

Dua orang ini melihat ke arahku yang duduk sendiri sambil tersenyum. Membuatku semakin rindu merantau, aku ingin merantau (lagi). Rindu bertemu sosok tangguh pencari nafkah, pengamen, orang jual cangcimen, minuman, dan orang yang jual tahu sumedang, katanya. Tapi, ketika dimakan rasanya seperti tahu biasa yang digoreng. Hahahaha. Yaa.. kita positif thingking aja, mungkin versi penjual itu adalah tahu sumedang.

Jail banget.. (orang yang memakai T-Shirt hitam)

  • Aku mengangkat kepala. Doi mengangkat kepala.
  • Aku tersenyum. Doi ikut tersenyum.
  • Aku kasih jempol. Doi ikutan kasih jempol.
  • Bus berjalan perlahan, aku dada-dada. Doi ikutan dada-dada. 🥴

Orang ini membuatku merindukan masa-masa merantau, ingin rasanya aku kembali merantau.
Rindu membatasi diri sendiri.

Rindu 20rb yang harus bisa dibuat makan selama 5 hari.

Ha? emang cukup 20rb untuk 5 hari?
Aku jawab dengan tegas. CUKUP! *versihidupsendiriya* 5 hari dengan 20rb cukup untuk mengenyangkan perut yang lapar. Hal yang membuat ga cukup itu gaya hidup. Lah, Kalau seminggu kita punya 7 hari dan dalam 7 hari itu, setiap hari kita gunakan untuk pergi ke starbak ya ga bakal cukup. HAHAHAHA.

Rindu diberi makan gratis oleh penjaga mukenah yang super baik di masjid Sabilillah, Malang. Sewaktu pulang kerja.

Rindu bertemu orang-orang baru pemberi pelajaran dan hikmah.

Merantau membuatku bertemu banyak orang-orang baru pemberi pelajaran dan hikmah.
Semisal, mbak-mbak yang mengamen di dalam bus yang pernah aku tumpangi.
Jika ku amati sepertinya dia masih muda sekali, seperti lebih muda dariku. Dan benar.
Aku buktikan dan bertanya padanya ketika dia menyodorkan sebungkus plastik permen kosong untuk menyimpan uang pemberian penumpang.
Lita : “Masih sekolah, mbak?”
Mbak Tangguh : “Dulu sekolah, mbak. Sekarang sudah ndak, mbak. Saya baru putus sekolah karena ga ada biaya.” Jawabnya dengan menyodorkan bungkus plastik ke penumpang sebelahku.
Lita : “Usia berapa mbak sekarang?”
Mbak Tangguh : saya usia 17 tahun sekarang.

You get it this point?
Kamu atau siapapun yang baca ini. Please. Aku mohon banget. tetap bersyukur dan jangan sia-siakan kesempatanmu untuk mengenyam pendidikan. Lakukan yang terbaik untuk pendidikanmu. Belajarlah dengan sebaik-baik penuntut ilmu. Jangan asal sekolah. Jangan asal mengerjakan tugas. Jangan kurang ajar sama guru. Intinya, lakukan yang terbaik untuk pendidikanmu dan…. jangan mengeluh. hehehe. Sesungguhnya, kadang, keluhan kita itu adalah hal yang di idam-idamkan oleh banyak orang.

Rindu menemani makan malam Ibu paruh baya dipinggir jalan sambil merasakan dilempar uang recehan.

Ini adalah part yang paling aku suka!

Aku sendiri di sana.
Aku ga ada keluarga. Dan merekalah keluargaku.
Salah satunya adalah Ibu paruh baya itu.
Menyempatkan menemani makan malam bersama mereka di pinggir jalan adalah kenikmatan tiada tara sebagai seorang perantau.
Merasakan dilempar uang recehan oleh banyak orang. Miris. Ada beberapa yang mengerti etika, mereka menundukkan badannya dan menaruh uang receh itu dengan baik. Ada yang main lempar. Dan banyak yang asal lewat tanpa membungkukkan badan atau memberi sedikit rezekinya.

Doaku.

YaAllah, angkatlah derajat orang-orang ini di dunia dan di akhirat, beserta anak keturunannya, dan seluruh keluarga besarnya.

Selamatkanlah mereka dunia dan akhirat.

Aamiin.

litadelapan

Well, ku kira duduk dan belajar di kampus adalah hal yang mahal. Ternyata ada yang lebih mahal dari itu, duduk di jalanan dan mengambil pelajaran dari kampus kehidupan. Dan aku suka!

Merantau, jauh dari keluarga memang hal yang tidak mengenakan dan menyakitkan. Tapi, aku tidak bisa membohongi diri bahwa dengan merantau aku banyak mendapatkan pelajaran dan hikmah. Sakit memang.. tapi menyenangkan! Lebih-lebih bertemu orang-orang tangguh di jalan yang selalu membuatku terkagum-kagum. Iya, aku selalu kagum dengan orang-orang seperti mereka. Sungguh. Aku adalah pengagum pertama bagi mereka yang merelakan dirinya untuk mensejahterakan keluarganya-

Aku menjadi candu. Rindu dan ingin kembali, menjadi perantau.

Untuk partisipasi silakan berikan komentar atau pun pertanyaan mengenai artikel di atas di kolom komentar yang tersedia di bawah ini. Jangan lupa berikan review dan rate anda untuk blog ini ya :). Klik link REVIEW BLOG LITADELAPAN. Terima kasih. Semoga bermanfaat.

11 thoughts on “RINDU RANTAU”
  1. Tulisan yg mengingatkan waktu masih kuliah, meskipun sekarang masih di rantau.
    20 ribu cukup buat seminggu? Cukup, pernah ngerasain juga…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
1
Hola!
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Ada yang bisa saya bantu?

Silakan tinggalkan pesan dan mohon menunggu beberapa saat.